Lewati ke isi utama
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar

Berita

Diskursus Estetika dan Identitas Budaya: Bincang Budaya pada Pameran Tunggal "DEDDE’ POLEANG" Iswan Bintang

Diterbitkan 6 Agustus 2026
AkademikP. Seni Rupa

MAKASSAR — Mengawal perjalanan pameran tunggal Iswan Bintang yang bertajuk "DEDDE’ POLEANG", hadir sebuah diskursus estetis dan ruang perjumpaan kritis yang mengintegrasikan praksis seni rupa kontemporer, riset artistik, dan dinamika kebudayaan Sulawesi Selatan.

Proyek kesenian ini bertolak dari penelusuran epistemologis yang mendalam terhadap dua entitas kebudayaan sentral, yakni Badik dan Lontara. Dalam konteks pameran ini, keduanya tidak direduksi sekadar sebagai artefak historis peninggalan masa lalu, melainkan diposisikan sebagai pusat produksi pengetahuan (knowledge production), jangkar identitas sosiokultural, dan landasan ontologis masyarakat Bugis-Makassar.

Melalui kerangka pendekatan seni rupa kontemporer, Iswan Bintang tidak hanya memindahkan simbol ke atas medium material, tetapi melakukan proses pembacaan ulang (re-reading), dekonstruksi simbolik, dan merajut kembali nilai-nilai luhur ke dalam bahasa visual yang inovatif. Badik, yang merepresentasikan ketajaman watak, integritas, dan prinsip moral, berjalinan dengan Lontara sebagai manifestasi nalar, literasi, dan puncak peradaban.

Berangkat dari narasi visual "DEDDE’ POLEANG" tersebut, agenda "Bincang Budaya" yang diampu oleh Dr. Meisar Ashari, M.Sn., hadir untuk menawarkan konstruksi paradigma artistik kepada publik. Forum akademik ini mengajak audiens untuk merefleksikan secara kritis eksistensi Badik dan Lontara melalui pisau analisis kajian Estetika.

Sesi dialektis ini dirancang untuk memantik perdebatan wacana (discourse) mengenai bagaimana warisan pengetahuan dan kearifan lokal (local wisdom) tersebut tidak hanya bermukim dalam memori kolektif sebagai ingatan pasif. Lebih jauh, kajian ini mendorong upaya reaktualisasi agar nilai-nilai filosofis tersebut terus hidup, menginspirasi, dan menjadi penuntun langkah praksis masyarakat Sulawesi Selatan di tengah arus disrupsi modernitas.

Kembali ke daftar berita