Konsep kurikulum yang tercantum dalam Kepmendiknas no.232/U/2000 dan no 045/U/2000 berbeda latar belakangnya ,yaitu lebih banyak didorong oleh masalah-masalah global atau eksternal, terutama yang yelah diuraikan dalam laporan UNESCO diatas. Hal-hal tersebul menimbulkan keadaan seperti: (a) persaingan di dunia global yang berakibat juga terhadap persaingan perguruan tinggi dalam negeri maupun di luar negeri. Sehingga perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang dapat bersaing dalam dunia global; (b) adanya perubahan orientasi pendidikan tinggi yang tidak lagi hanya menghasilkan manusia cerdas berilmu tetapi juga yang mampu menrapkan keilmuanya dalam kehidupan di masyarakatnya (kompeten dan relevan), yang lebih berbudaya. (c) juga adanya perubahan kebutuhan di dunia kerja yang terwujud dalam perubahan persyaratan dalam menerima tenaga kerja, yaitu adanya persyaratan softskill yang dominan sisamping. sehingga kurikulum yang dikonsepkan lebih didasarkan pada rumusan kompetensi yang harus dicapai /dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang sesuai atau mendekati kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat pemangku kepentingan /stakeholders (competence bassed curriculum). Disamping itu perubahan ini juga di dorong adanya perubahan otonomi perguruan tinggi yang dijamin dalam undang-undang sistem pendidikan nasional,yang memberi kelonggaran terhadap perguruan tinggi untuk menentukan dan mengembangkan kurikulumnya sendiri. Peraturan presiden No. 8 tahun 2012 tentang capaian pembelajaran sesuai dengan level KKNI, maka kebijakan perubahan kurikulum secara tidak langsung maupun langsung akan menghadapi berbagai langkah dan tantangan dalam implementasinya di lapangan. Begitu pula yang berlaku dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Dan ini sangat tergantung pada pemahaman pelaksana pendidikan  (lembaga,dosen dan administrasi) dalam mengimlementasikan perubahan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) . secara rasional pengembangan KBK adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan secara bersamaan dengan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu pendidikan harus lebih relevan, bermutu, adil dan manusiawi menjangkau semua lapisan dan golongan masyarakat. 2. Pengembangan wawasan persaingan keunggulan bangsa indonesia, dengan kuncinya adalah pendidikan yang bermutu, realistik dengan kehidupan nyata yang terus berkembang. 3. Memperkuat keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan perkembangan nasional yakni mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. 4. Mendorong terciptanya masyarakat., 5. Menyiapkan generasi masa kini dan masa depan yang melewati proses belajar dan pembelajaran yang bermakna sesuai dengan tugas-tugas nyata, 6. Memperkuat jati diri bangsa yang mampu menjangkau proses perubahan yang cepat dalam era global di abad ke-21. Berkaitan dengan rasional tersebut maka Universitas Muhammadiyah Makassar menyusun panduan pengembangan kurikulum bagi program studi. Panduan ini berfungsi sebagai : (i) kebijakan dalam menentukan dan mengembangkan kemampuan  (kompetensi) untuk melakukan tugas-tugas dan standar performansi tertentu yang termuat dalam spesifikasi program studi; (ii) filosofi yang akan memaknai terbentuknya masyarakat dan iklim akademik; (iii) patron atau pola pembelajaran; (iv) atmosfer atau iklim yang terbentuk dari hasil interaksi manajerial FKIP Unismuh Makasssar dalam mencapai tujuan pembelajaranya; (v) rujukan kualitas dri proses penjaminan mutu; (vi) Ukuran keberhasilan FKIP Unismuh Makassar dalam menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat.